This is My Five Source of Happiness

Semakin aku menuju dewasa, rasanya aku semakin memaknai hidup dengan lebih legowo dan ga ngoyo. Pun, aku semakin menghargai hal-hal yang terasa remeh temeh (mungkin), tapi justru hal-hal itu yang bisa jadi sumber kebahagiaan di usiaku yang tak lagi remaja, dan di saat lingkaran pertemanan semakin sempit.

Perbincangan dengan Teman Dekat

Jujur di penghujung usia 20-an, aku semakin bisa menghitung teman-teman dekat ku dengan jari! Ya, teman dekat yang mengerti dan menyamankan untuk berbagi cerita, keluh kesah, rahasia, masalah sampai perghibahan sebagai pelampiasan unek-unek problema hidup sehari-hari bisa dihitung dengan jari, tak sampai 10 jumlahnya! Tapi, aku bersyukur sekali dengan kehadiran mereka, apalagi di masa pandemi superti ini meskpipun kami jarang bertemu tapi komunikasi kami lancar, dan tetap saja nyambung di setiap perbincangan a sampai z, meskipun misalnya sudah berbulan-bulan tidak bersua!

Misalnya saja, QQ, seorang teman dan sahabat sejak aku mengeyam bangku kuliah 2009 silam. Teman yang bisa berbagi masalah hingga rahasia lika-liku kehidupan yang mungkin saja sulit dan tak akan dimengerti oleh keluarga. Pertemanan 11 tahun dan masih terjaga sampai sekarang, menjadi salah satu sumber kebahagiaan bukan?! Di saat aku stres karena self-quarantine berbulan-bulan di tengah pandemi, QQ adalah salah satu teman Netflix Party yang paling setia dengan tontonan drama korea mulai dari It's Okay Not to be Okay hingga the Record of Youth sampai-sampai seringkali kami menangis berjamaah karena lesson learned yang kita dapatkan setiap nobar.

Bersama QQ


Lain lagi dengan Rance, sosok teman dan sahabat yang kutemui dari komunitas ku dulu di awal tahun 2017-an. Dia seorang yang penuh konsep dan teoritis, seakan melengkapi diriku yang pada dasarnya lebih sering impromptu dan minim perencanaan, haha! Sejak di komunitas kami memang aktif berkegiatan ini itu tanpa lelah. Menurut Rance kami adalah sosok-sosok alfa female yang mendominasi dan senantiasa ingin membuat karya. Hingga akhirnya di pertemuan awal September 2020, kami berbincang tentang pembuatan podcast perihal isu-isu yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari, Collaboration Podcast! Nanti aku akan ceritakan di edisi khusu ya tentang Podcast ini!

Kulineran

Siapa yang tak suka makan-makan dan hunting kuliner? Kalau aku ya suka banget! Salah satu aktivitas yang menyenangkan nih bisa berburu makanan favorit atau pun makanan-makanan yang belum pernah dicoba sebelumnya! Bahkan aku punya cerita unik dari kulineran! Berawal dari icip-icip kuliner di Warung Solo, Kemang bareng Oky, Derus, Mas Achy, Aris, Benaaa, Vira, Bela dan dilanjutkan dengan agenda-agenda kulineran lainnya, bahkan kami sampai saat ini masih jadi Geng Kuliner Hits, hahhaha. Judulnya pertemanan dari kulineran nih. Beragam serba-serbi cerita kuliner yang pernah ku dokumentasikan dalam cerita bisa kamu baca di kulinerannya culture traveler ya!

 
View this post on Instagram

Happy F.R.I.E.N.D.S #GengKulinerHits

A post shared by Wulan (@hallowulandari) on


Jalan-jalan

Salah satu hal yang paling diidamkan dan dinanti nih bisa jalan-jalan, mau city trip, ke luar kota, atau pergi ke gunung dan laut, intinya jalan-jalan! Aku pasti suka! Apalagi kalau teman jalannya seru, menyenangkan dan sama-sama hobi hunting foto! Lengkap deh perjalanannya. Aku mulai merasakan serunya jalan-jalan di masa kuliah, mewakili kampus mengikuti acara Safari Bhakti Kesetiakawanan Sosial (SBKS) yang diselenggarakan Kemensos. Seru banget waktu itu, perjalanan 24 hari dengan kapal TNI AL bersama para tentara-tentara, dan ada mas pilot TNI AL yang aku taksir pada saat itu! Hahahhaha. Kami melakukan perjalanan ke titik-titik terluar Indonesia, mulai dari Waingapu, Solor, Haruku, Pangkep, Ambon, hingga Fakfak. 

Entah mengapa, selama ini aku lebih banyak menyambangi wilayah Indonesia Timur dibandingkan tempat-tempat di Indonesia bagian barat. Beragam cerita perjalananku sudah kutulis di blog perjalananku, Culture Traveler. Pun, akhirnya aku punya wish list untuk bisa menyambangi lebih banyak tempat-tempat di Indonesia bagian barat.


Main Game

Selama masa pandemi dan aku hanya bisa menjalani aktivitas sehari-hari, kuliah dan kerja di mess, akhirnya muncul inisiatif untuk barmain game bersama teman-teman mess untuk sarana bersenang-senang. Untungnya aku teringat masih memiliki kartu uno dan stacko. Dan tentu saja, stacko menjadi permainan primadona di mess, hingga akhirnya bergeser ke permainan werewolf dan kartu uno serta remi.


Jatuh Hati (?)

Kenapa jatuh hati (?) melainkan jatuh cinta? Ya karena, (aku) akan lebih mudah jatuh hati dibandingkan jatuh cinta. Jatuh cinta terlalu complicated disertai takaran perasaan yang terlalu mendalam. Pun, sepertinya sulit mencapai titik jatuh cinta? Atau aku pun belum menemukan makna dari jatuh cinta?

Di usia sekarang, di penghujung 20-an rasanya, aku baru merasakan (sakitnya) jatuh cinta sekali. Rasa suka, cinta, benci, kesal, perhatian dan segala rupanya terlampau dalam. Perpisahakan akibat perselingkuhannya pun terasa menyesakkan dan menyayat hati menahun. Mungkin, saat ini rasa sakit itu sudah berangsur hilang, tapi sekelibat bayangan dan memori-memori hitam itu masih saja menyesakkan dada.

Lalu, kenapa jatuh hati (?) menjadi menyenangkan? Menurutku, saat kita jatuh hati pada seseorang, akan ada rasa-rasa kebahagiaan tersendiri meskipun keberadaan kita pun tak disadarinya. Terlebih, jika dirinya memberikan umpan balik yang menyenangkan, siapa yang tak akan bahagia karenanya?

Last but not least, it just reminder for our self, we are the priority in our life. Make ourselves happy, then we can live happily.

1 comment

  1. Kumplitt semua ini, dari temen deket, kulineran, traveling sampai jatuh hati....ini hal-hal yang bikin suasana hati selalu bahagia sih...kalau kain games aku malah pusing mikir biar menang..hahaha

    ReplyDelete