Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Bagi Kehidupan

Lama tinggal di area pertanian dan sekarang sudah lebih dari 10 tahun hidup merantau di area perkotaan, aku merasa isu-isu kebakaran hutan masih terasa jauh dari isu-isu kehidupan pribadiku sehari-hari. Tapi siapa sangka ketika aku mengikuti online gathering bersama Eco Blogger Squad dan Auriga Nusantara isu-isu kebakaran hutan dan lahan sangat merugikan bagi kehidupan manusia, ekosistem, flora dan fauna.


Fenomena Kebakaran Hutan di Indonesia

Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia tiga tahun terakhir menjadi salah satu fenomena yang paling mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir, bahkan data pemerintah menunjukkan 1,6 juta hutan dan lahan habis dilahap api! Luas hutan dan lahan yang tidak sedikit loh! Banyak flora, fauna, dan pepohonan yang menjadi sumber oksigen, wahana penyerapan air pun habis! Bahkan asap akibat kebakaran hutan ini pun kerap memperpanas hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangga. Ahhh, aku jadi ingat kebakaran hutan di Riau pada 2019 silam, ketika asap kebakaran sampai ke Singapura dan Malaysia hingga turut mengganggu kehidupan masyarakat di sana. Apalagi dengan masyarakat di Riau dan sekitarnya? Pasti sangat menyiksa!

Luas Kebakaran Hutan Indonesia 2015-2019
Sumber Data: Auriga Nusantara

Kebakaran Hutan Berulang: Ulah Manusia?

Selama ini, fenomena kemarau panjang (El Nino) senantiasa dikambinghitamkan sebagai salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Tapi ternyata kebakaran hutan dan lahan terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Hingga akhirnya kita harus memikirkan faktor lain yang menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan yang tak berkesudahan: ulah manusia?

Dampak Kebakaran Hutan bagi Kehidupan

  • Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi menjadi salah satu penyebab Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang gas emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
  • Tahun 2015 dan 2019 menjadi tahun terburuk kebakaran dan bencana kabut asap.
  • Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara berulang di Indonesia menyebabkan kenaikan emisi yang signifikan secara global.
  • Dari sisi kesehatan kebakaran hutan dan lahan menyebabkan 24 orang meninggal dunia dan 600 ribu orang terjangkit ISPA, 6.025 warga mengidap ISPA, sejumlah bayi menderita batuk, flu, sesak nafas dan muntah saat terjadi kebakaran hutan tahun 2015.
  • Bahkan kebakaran hutan 2015 pun menyebabkan 1,5 juta peserta didik mengalami ketertinggalan pelajaran, serta kebakaran hutan 2019 menyebabkan lebih dari 46.000 sekolah memiliki kualitas udara buruk.
  • Kebakaran hutan juga mengganggu keberlangsungan ekosistem, flora dan fauna yang hidup di area tersebut.

Kebakaran Pada Kawasan Hutan dan Kesatuan Hidrologis Gambut

Sebagian besar titik panas sepanjang 20 tahun terakhir berada di lahan gambut, terutama di Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Papua. Hal ini menyebabkan kebakaran hutan dan lahan semakin sulit untuk dipadamkan karena api menjalar di perut gambut dan memicu bencana asap. Kebakaran dan dapur api pada wilayah-wilayah tersebut senantiasa berulang selama 20 tahun terakhir.

Terjadinya kebakaran berulang di lahan gambut tentu merugikan, padahal keberadaan lahan gambut memberikan banyak manfaat bagi lingkungan, ekosistem dan kemanusiaan. Lahan gambut mampu mencegah banjir di musim penghujan dan mencegah kekeringan di musim kemarau karena lahan gambut memiliki kemampuan untuk menampng air pada musim penghujan. Selain itu, lahan gambut pun menjadi habibabt kehidupan bagi berbagai macam sawta dan tumbuhan serta lahan budidaya pertanian, peternakan, dan perikanan yang menguntungkan.

Inisiatif Aksi yang Bisa Kita Lakukan

Fenomena kebakaran hutan dan lahan menjadi masalah dan tanggung jawab bersama untuk diatasi, kira-kira apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat sipil?

  • Mengurangi penggunaan kertas, tissue dan produk-produk dari hasil penebangan hutan.
  • Memilih produk dengan label eco friendly, yang artinya perusahaan pemroduksi barang-barang tersebut sudah ikut serta menjaga hutan dan meminimalisir penggunaan kayu.
  • Ikut menjaga kawasan hutan dengan adopsi pohon, adopsi hutan hingga donasi.
  • Turut melestarikan lahan gambut yang tersisa.
  • Senantiasa menyebarluaskan informasi ini kepada khalayak ramai agar menjadi pengetahuan dan tanggung jawab bersama untuk turut serta menjaga hutan dan lahan.
Semoga langkah-langkah kecil kita bisa turut menjaga bumi, keberlangsungan hutan dan lahan untuk masa depan anak cucu kita kelak!

32 comments

  1. Aku cuma bisa ambil bagian kecil: mengurangi penggunaan tisu dan menghemat kertas untuk membantu pelestarian hutan. Semoga korporasi bisa ambil tindakan lebih nyata ya supaya tidak merusak hutan kita lebih parah lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mbak, udah beberapa bulan ini aku nggak beli tisu. Tinggal ngabisisn sisa tisu dapur aja nih. Alhamdulillah udah terbiasa lap-lap pakai serbet sekarang.

      Delete
  2. Dampak kebakaran hutan sangat menyeramkan karena kita kehilangan salah satu sumber penghijauan , paru-paru kota. Nach perawatan dan pelestariannya harus tetap dijaga terus agar tidak terjadi kebakaran. Tugas kita semua!

    ReplyDelete
  3. hutan disebut sebagai paru2 dunia. kalau sampai kebakaran, ya sesak napaslah kita semua. harus dijaga betul ya kelestariannya

    ReplyDelete
  4. langkah-langkah kecil bisa berdampak besar untuk lingkungan seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan juga bisa menyelamatkan hutan kita dari ancaman kebakaran hutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, yang kecil kalau dilakukan konsisten bisa jadi dampak luar biasa, semoga bisa saling jaga :)

      Delete
  5. Kita harus menjaga kelestarian lingkungan, terlebih hutan. Padahal jika hutan kebakaran, anak-anak di masa mendatang hanya bisa terkenang. Ngga ada lagi sumber air bersih buat kehidupan mereka. Maka dari itu, kita juga harus menjaga kelestarian hutan. Bahkan kalau perlu menanamlah pohon dekat rumah.

    ReplyDelete
  6. Sedih sih kalau udah denger soal kebakaran hutan, banyak banget yang jadi korban. Kita harus hati2 saat di hutan supaya tidak mengakibatkan kebakaran hutan

    ReplyDelete
  7. Btw 2019 lalu kami baru tinggal di Pekanbaru mbak. Pas lagi musim asap parah. Rasanya beneran sulit bernafas. Ah, beneran deh kebakaran hutan tuh bisa jadi ancaman bukan hanya bagi flora dan fauna yang hidup di hutan tetapi manusia juga

    ReplyDelete
  8. Dulu sebelum mendalami zero waste aku ga terlalu aware soal karhutla. Makin kesini makin aware. Contoh kecil yang bisa kulakukan dari rumah adalah memilah sampah, dan totally berhenti pakai tissue.

    ReplyDelete
  9. Kertas dan tissue itu nampaknya agak susah ya. Apalagi tissue masih banyak disediakan di tempat-tempat publik, dan juga masih banyak dijual bebas. Padahal kalau di pedesaan, tissue itu nggak terpakai. Mereka langsung membersihkannya dengan air.

    ReplyDelete
  10. Mirisbanget sama bencana kebakaran hutan ini, apalagi dampaknya kemana-mana. Sebenarnya kerugiannya besar, tapi entah kenapa kesadaran untuk menjaga hutan belum juga terbangun.

    ReplyDelete
  11. Saya paling suka ngomel2 kalo anak2 pada ngehabisin kertas buat coret2 dan berkarya. Kadang boros banget baru coret segaris udah ganti kertas. Kalau tissu saya dari dulu ga pernah beli tiau kecuali tisu basah untuk pup bayu..itupun di hemat hemaatt

    ReplyDelete
  12. Penggunaan kertas dan tisu ini jujur masih sulit kami lakukan nih. Kertas karena kami sekolah di kampung, sementara tisu, kalau mendaki gunung, untuk kebersihan justru kami masih bergantung pada tisu (kering) kalau tisu basah memang sudah kami hindari

    ReplyDelete
  13. Ngomongin karhutla ini emang gada habisnya sih ya. Paling sebel kalau katanya sengaja dibakar untuk pembukaan lahan, efeknya itu bisa jangka panjang dan jangka pendek padahal hutan paru2 dunia yang penting banget

    ReplyDelete
  14. Ini udah jadi kayak bencana tahunan gitu ngga sih mba? huhu.. sedih bangett.
    Sebagai pengganti tissue aku pakai lap kain sih sekarang, alhamdulillah murah juga kalau beli banyak dan bisa dicuci

    ReplyDelete
  15. Ayu Natih Widhiarini23 June 2022 at 20:47

    Menjadi eco traveler dan ikut program carbon offset juga salah satu cara kita untuk mengatasi kebakaran hutan akibat Krisis iklim ini mba.. ayo kita jadi responsible traveler untuk lingkungan kita

    ReplyDelete
  16. Ngeri banget dampak kebakaran hutan dan lahan ini ya mbak
    Makanya harus dicegah ya mbak

    ReplyDelete
  17. Ngeri lho kalo semakin lama hutan kita semakin hilang karena di alih fungsikan.. Karena kan hutan merupaka lahan hijau yang menjadi pencegah pemanasan global

    ReplyDelete
  18. salah satu langkah yang real yang bisa saya lakukan untuk mengantisipasi kebakaran hutan oleh ulah manusia karena pembukaan lahan adalah dengan menggambar digital dan menulis jurnal online. yess, mengurangi kertas kan ya kak.

    ReplyDelete
  19. banyak bgt ya dampaknya dari kebakaran hutan, yg mungkin bisa kami lakukan dr rumah dengan mengurangi kertas contohnya

    ReplyDelete
  20. Dampaknya sih luar biasa banget
    Pernah rasain dulu hidup sama asap waktu di Kalimantan
    Enggak enak banget
    Makanya ini kudu ngurangin yang bisa menyebabkannya

    ReplyDelete
  21. Paling sedih kalau dengar berita kebakaran hutan, apalagi aku yang tinggal di daerah Kalimantan. Semoga kita menjadi generasi hijau yang cinta lingkungan. Salam lestari 💚

    ReplyDelete
  22. Ada banget yang bisa kita lakukan untuk menjaga hutan dan menghindari karhutla yang ternyata lebih banyak campur tangan manusianya ketimbang faktor alam seperti yang kita tahu selama ini.

    Semoga kita semua bisa menjadi agen perubahan mitigasi lingkungan agar bumi bisa kembali indah dan nyaman untuk kita tinggali bersama.

    ReplyDelete
  23. Kalo aku ambil bagian terkecil juga sprti mengurangi sikap dan perilakuku yg sebenarnya senang gunain tissue atau kertas gitu agar bisa menjaga kelestarian hutan ya. Kayaknya lewat tulisan ini aku jadi evaluasi diri buat membiasakan sikap itu Mba, hehe

    ReplyDelete
  24. Sedih kalo baca berita kebakaran hutan, hanya hal2 kecil yg bisa aku perbuat seperti ngurangin kertas dan minimalisir produksi sampah.

    ReplyDelete
  25. Kebakaran hutan memang selalu meresahkan. Aku berharap ada tindak tegas dari Pemerintah terkait oknum-oknum nakal yang membuat masalah ini berkepanjangan. Sudah sewajarnya, kita juga harus lebih sadar dan sabar untuk merawat bumi demi keberlangsungan hidup anak dan cucu nanti*

    ReplyDelete
  26. Dulu aku kerja di start up yang paperless, bahkan kami enggak punya arsip dokumen yang dipajang di lemari2 gitu semuanya berbasis clouds, movment yang lumayan keren untuk mengurangi penggunaan kertas walaupun masih pake tisu

    ReplyDelete
  27. Kalau ada berita tentang kebakaran hutan, aku selalu ingat dengan binatang-binatang di dalamnya. Kasian banget mereka mati kelaparan. Habitatnya terbakar. Hikss.. Moga jumlah kebakaran hutan ini tidak meningkat lagi. Aamiinn

    ReplyDelete
  28. Halo Mba Wulan.
    Menarik sekali artikelnya.
    Bener, kadang karena kita di lokasi yang ngga berdekatan dengan area kebakaran, kita jadi sering abai dengan informasi tentang lingkungan ini yaa. Suka banget sama EBS, di dalamnya kita belajar buanyak banget hal yang sebelumnya bahkan ngga pernah kepikiran.

    ReplyDelete
  29. Menurut aku kalau mengurangi penggunaan tissue, apalagi kertas agak sulit yaa kak di lingkungan masyarakat. Dimana di daerah terpencil masih membutuhkan kertas untuk menulis dan belajar. Mungkin yang dapat kita lakukan memilah sampah agar bisa diolah menjadi barang lain yg bermanfaat sehingga meningkatkan ekosisitem yang baik.

    ReplyDelete
  30. Yuk sama-sama untuk menjaga biar tidak terjadi lagi pembakaran. Dan tentunya sosialiasi seperti ini memang harus mengajar digalakkan

    ReplyDelete

your comment awaiting moderation