Belajar Jadi Investor Bahagia di Masa Pandemi

Dua belas tahun menjadi anak rantau, masih sibuk berkarir dan hendak menginjak kepala tiga di bulan Juli mendatang tentu terlintas pertanyaan-pertanyaan soal hidup yang berkelindan di kepala, mulai dari kemandirian finansial bagi diriku dan kedua orang tua, kemampuan untuk menyelesaikan studi lanjutan di semester ini, kemampuan untuk menanggung cicilan-cicilan setiap bulan, mempersiapkan tabungan masa depan hingga menjawab pertanyaan orang tua yang sudah semakin sering dilontarkan, perkara jodoh, yang tentu aku tak memiliki kepastian untuk menjawabnya.

Di antara semua persoalan hidup yang berputar-putar di kepala, agaknya hampir semua bermuara ke stability of financial, hasrat mencapai mimpi yang diidamkan serta kebahagiaan.

Sejak kecil, di pedukuhan yang terpencil di Kabupaten Tegal, sebetulnya mamakku sudah memupuk pendidikan finansial dengan caranya sendiri. Meskipun, Ia tak mengeyam bangku sekolah tapi Ia adalah salah satu role model ku selama ini soal financial planning. Prinsip yang selalu Ia terapkan sejak dulu adalah lebih baik memilih menabung dalam bentuk emas, meskipun emas perhiasan dan membeli tanah sebagai aset masa depan, alih-alih menabung uang di bank. Agaknya prinsip yang terpatri sejak aku kecil tersebut, melekat erat di diriku sampai aku dewasa. Baru lah, beberapa tahun belakangan ini ketika karir lebih baik, pendapatan lebih baik, semakin banyak dan belajar tentang financial planning di luar ajaran mamakku, akhirnya aku pun menambah praktik-praktik pengaturan finansial lainnya. Mulai dari keikutsertaan asuransi kesehatan, asuransi jiwa, membuka tabungan masa depan hingga mencoba menabung reksadana. Soal reksadana pun, masih pasang surut ya, karena ini hal yang sangat baru buatku.

Jujur, hingga saat ini aku belum terealiasi untuk mencoba berinvestasi di pasar saham. Keinginan untuk berinvestasi sudah ada beberapa waktu belakangan ini, seringkali aku pun bertanya dengan teman-teman yang sudah memulai investasi saham. Sedikit demi sedikit informasi, tips dan keberanian mulai tumbuh untuk mencoba berinvestasi di pasar saham.

Di tengah, pertimbangan-pertimbangan pengaturan finansial dan investasi, apalagi di masa pandemi seperti ini, yang mana aku harus lebih ketat mengatur keuanganku untuk tetap survive di tengah ketidakpastian kondisi baik kebutuhan orang tua, maupun sumber-sumber pendapatanku, aku menemukan buku yang menarik "Memilih (Menjadi Investor) Bahagia"  yang ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, seorang certified financial analyst. Buku ini menarik bagiku, bukan karena berisi ulasan bagaimana tips dan trik serta kiat-kiat untuk menjadi investor, namun karena tulisannya terasa sangat dekat dengan keseharian tanpa bermaksud menggurui. 

Belajar Jadi #InvestorBahagia

Dalam bukunya ini, Mas Wuddy berupaya menceritakan pengalaman hidupnya dari titik nol, campur aduk rasa kebingungan dan kegamangan kondisi real life di lapangan kerja ketika dia mencoba memulai kerja sampingan untuk menyambung biaya hidup sembari menjalani kuliah di Universitas Satria Mandala. Dari berbagai pengalamannya, Mas Wuddy pun menemukan formula yang ditempuh untuk memilih pekerjaan berdasarkan calling (panggilan), tidak sekadar pekerjaan (job) demi mendapatkan pundi-pundi uang tanpa adanya value dari pekerjaan tersebut.

Dulu Mas Wuddy, bekerja sampingan sebagai salesman tinta cetak selagi menjalani hari sebagai mahasiswa. Di sela-sela waktunya itu lah, Ia sering ke perpustakaan dan rajin membaca. Saat menjadi salesman tinta cetak, sebagai seorang junior Ia 'manut' mengikuti para seniornya melakukan rapat bayangan. Rapat untuk ghibah dan berkeluh kesah tentang kantor, yang mana menurut Mas Wuddy berdampak negatif untuk mindset dirinya. Hingga akhirnya Ia berkonsultasi dengan mentornya, dan meninggalkan rutinitas negatif tersebut. Dari sana Ia belajar tentang the power of proximity, dimana kita penting untuk melakukan sosialisasi dan memilih lingkungan yang dapat membantu untuk mengkonstruksi mental positif hingga diri kita lebih bersemangat dan bahagia.

Ketika kita berada di lingkungan negatif, secara tegas kita harus mengambil pilihan dan keputusan untuk keluar dari lingkungan tersebut dan lebih baik memikirkan dan menghitung berkat serta hal-hal positif yang berdampak bagi diri kita. Hal tersebut akan memberikan semangat positif atas apa-apa yang kita kerjakan alih-alih berkeluh kesah dan malah menurunkan semangat, mental serta kinerja kita. Memilih untuk menjadi bahagia dan mengambil berkat dari setiap hal dan lingkungan senantiasa ditekankan Mas Wuddy agar menjadi seseorang yang bahagia sekaligus #InvestorBahagia. Karena setiap hal dan waktu yang kita luangkan adalah suatu bentuk investasi jangka panjang dalam kehidupan kita.

Pesan menarik dari buku ini adalah keputusan untuk menjadi bahagia adalah pilihan yang harus dipilih di setiap jalan hidup kita, jika kita memilih untuk bahagia ya kita akan bahagia.

Selama perjalanan hidup dan karirnya, mulai dari menjalani pekerjaan sebagai salesman tinta cetak hingga saat ini menjadi penulis dan investor ternama Mas Wuddy pun tak luput dari kesalahan dan kelalaian dalam memilih investasi. Menurutnya kesalahan itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Justru dari kesalahan tersebut kita harus belajar, hal apa yang lebih baik, ilmu baru untuk memperbaiki diri, memperbaiki hidup, memperbaiki skema investasi, hingga akhirnya menjadi sukses dan #InvestorBahagia.

Sisi lain yang terasa menyenangkan saat membaca buku ini adalah, Mas Wuddy senantiasa memasukkan sisi keluarga dalam setiap ceritanya, keluarga menjadi sumber semangat dan kebahagiaan yang Ia pilih. Bahkan, Ia pun berkolaborasi dengan anaknya, Joelle Warsono untuk menggambarkan ilustrasi tulisan-tulisannya, termasuk buku ini. Kolaborasi itu tak hanya semata kerjasama bisnis, namun Ia hitung pula sebagai berkat membangun bounding dan kedekatan bersama anaknya. Menjadi bahagia adalah pilihan cuma-cuma dan gratis yang harus kita buat setiap saat.

Ketika membaca buku ini kita serasa diajak berjalan bersama Mas Wuddy untuk melihat kisah perjalanan hidupnya mulai dari keluarga, pendidikan, membangun karir, memilih lingkungan, perjalanan hidup, hal-hal yang menginspirasi hingga cerita hidupnya di era new normal semasa pandemi Covid-19 saat ini. Semua kisah itu dibahas secara santai di setiap bab buku "Memilih (Menjadi Investor) Bahagia."

Mas Wuddy memang menekankan sekali bagi kita untuk mengambil pilihan menjadi bahagia, karena kita memiliki privilege pilihan tersebut. Acapkali kita lupa untuk memilih bahagia dan mengutamakan bertahan hidup lebih dulu, bahagia kemudian. Dalam buku ini, aku serasa disadarkan bahwa keputusan dan pilihan untuk menjadi bahagia bisa kita ambil di sepanjang jalan, in every step of the way. 

Membaca buku ini serasa mendapatkan teman bercerita tentang kehidupan, pentingnya hidup di masa sekarang, in this present moment, pentingnya menanamkan kebiasaan baik dalam hidup, seperti berinvestasi, cara menikmati ketenangan, kesunyian, memilih orang yang mengelilingi kita dan tentang kebahagiaan.

Sudah siap untuk lepas landas menjadi #InvestorBahagia?


Judul: Memilih (Menjadi Investor) Bahagia
Penulis: Wuddy Warsono, CFA
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2021
Cover: Soft
ISBN: 9786230024917


22 comments

  1. Aku pun memilih untuk menjadi bahagia ajaa. Mas Wuddy yang menekankan bagi kita untuk mengambil pilihan menjadi bahagia, karena kita memiliki privileg bagi kita semuaa.
    Ahh jadi kepo sama bukunyaa.

    ReplyDelete
  2. Jadi penasaran nih mau baca bukunya, kebetulan akhir-akhir ini saya mau nayri buku non-fiksi tentang pengalaman hidup nih.

    ReplyDelete
  3. Woh bagus banget judulnya dan kontennya, menjadi investor yang bahagia. Biasanya jadi investor itu harus bingung dan terus tegang dengan investasinya. Semoga bisa memiliki buku itu supaya bisa bahagia.

    ReplyDelete
  4. Ah iya, bahagia itu kita yang memilih dan menentukan. Yang penting jangan pura-pura bahagia menurutku. Kalau memang pas lagi sedih, ya nikmati saja. Karena kita hanya manusia.

    ReplyDelete
  5. Saya pernah baca. salah satu alasan orang berinvestasi karena sayang keluarga
    Dia gak mau anaknya kapiran
    Ternyata terbukti dari penulis buku ini ya?

    ReplyDelete
  6. Ada pesan manis yang saya tangkap sedikit, bahwa menjadikan diri tetap positif termasuk memilih lingkungan bersosialisasi yang nyaman dan baik dapat membentuk diri menjadi lebih baik pula dalam karir.

    Keren nih bukunya.

    ReplyDelete
  7. tujuan hidup manusia bahagia dunia akhirat. Tapi kadang kita kurang bersabar menghadapi rintangan dan ujian, makanya kita diwajibkan untuk selalu bersyukur biar jiwa ini selalu bahagia dan damai.

    Ulasan bukunya bikin semangat ,apalagi kalau bisa baca langsung nih biar makin bahagia 😍

    ReplyDelete
  8. Saya pun senang membaca cerita-cerita orang yang mencapai kesuksesan dari titik nol. Menambah semangat untuk diri sendiri juga. Menarik sekali kalimatnya bahwa kita memang harus berbahagia karena sudah punya privilege nya ya. Selama ini kebanyakan mikirin tentang gimana jalani hidup saja sampai lupa rasanya bahagia. Hmmm,saya ingin ikutan baca bukunya juga nih setelah membaca ulasan disini. Ingin menjadi investor juga yang sukses apalagi di masa pandemi gini ya maunya punya banyak uang.

    ReplyDelete
  9. Saya belum pernah baca buku ini mbak. Sepertinya menarik juga menjadi investor bahagia yang bisa punya passive income. Hidup tetap tenang tanpa kuatir akan ketidak stabilan ekonomi

    ReplyDelete
  10. seumur umur belum pernah punya investasi reksadan dll. ternyata berinvestasi memang perlu dimasa sekarang tapi ya harus bahagia jangan sampai berinveat malah stress bahkan merugi

    ReplyDelete
  11. Bahagia memang pilihan hidup setiap kejadian yang datang sifatnya netral tergantung kita menyikapinya seperti apa.... Hidup di dunia memang tentang bersabar dan bersyukur ya, bersabar menghadapi setiap ujian yang datang, bersyukur terhadap semua nikmat kehidupan.

    ReplyDelete
  12. Investasinya sendiri bagaimana, Lan? Instrumen apa yang dipilih penulis bukunya untuk investasinya supaya tetap bahagia?

    ReplyDelete
  13. Pilihan bahagia memang ada pada diri kita, maka dari itu perlu memiliki tabungan dan investasi untuk bahagiakan diri di masa depan.

    ReplyDelete
  14. penasaran dengan isi bukunya
    karena yang nulis anak muda ya mbak, keren masih muda sudah berani berinvestasi
    saya juga lagi nyoba investasi

    ReplyDelete
  15. Jadi investor tuh harus rajin dan cermat ya biar investasinya membawa kebahagiaan ^^ Semoga makin banyak investor bahagia di Indonesia :)

    ReplyDelete
  16. Bahagia itu persoalan mengolah emosi ya menurutku. Memang ada kalanya kita sedih dan itu wajar :)

    ReplyDelete
  17. Bener banget, bahagia bisa menjadi pilihan kita. Di situasi apa pun. Tapi terkadang sedih itu juga wajar, nikmati kesedihan, asal jangan berlarut-larut, penerimaan, lalu kembali bahagia. Menurutku bahagia ktu tentang mindset dan hati yang legowo kalo orang jawa bilang.

    ReplyDelete
  18. Hi Kak, salam kenal, yaaa! Jujur belakangan aku sering lihat buku ini berseliweran di timeline-ku, lalu di-review oleh dirimu, dan aku makin penasaran. Hehe.

    ReplyDelete
  19. Wah baru tau lho ada kiatnya jadi investor bahagia..kirain investor tuh dag dig dug aja bawaannya ,..maulah kalo bisa jadi investor bahagia jadi kepo pengen baca bukunya

    ReplyDelete
  20. Memang kook, jadi manusia yang susah itu management sikap positif!
    Jadi investor bahagia = nabung bahagia, right?

    ReplyDelete
  21. Bagus banget nih bukunya. Banyak kisah inspiratif yg membuat pembaca bisa termotivasi, tdk hanya tentang investasi tetapi juga hal2 umum lainnya dlm hidup. Keren

    ReplyDelete
  22. Terkadang kita suka lupa ya, bahwa diri kita jg berhak bahagia. Krn bahagia itu pilihan hidup. Dan semua org berhak bahagia dgn pilihan hidup masing² :)

    ReplyDelete