Mematahkan Stigma dan Mitos HIV/AIDS

HIV tidak mudah menular! Tanpa kontak darah dan kontak seksual!

Memang ya, sedari dulu HIV dan AIDS menjadi salah satu momok penyakit yang tabu untuk diperbincangkan disertai stigma dan mitos seputar HIV/AIDS. Stigma dan mitos paling umum yang dibicarakan dan sudah menjadi top of mind penyakit HIV/AIDS adalah sangat mudah tertularnya penyakit HIV dan AIDS hanya dengan pertukaran handuk, alat makan, dan tinggal bersama. Tapi, ternyata semua mitos dan stigma tersebut tidak benar. Informasi ini pun ku dapatkan dari dr. Adi Sasongko, Ketua Badan Pengawas YKIS (Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat) saat menonton siaran berita KBR "Mematahkan Stigma dan Mitos HIV/AIDS" di kanal YouTube Ruang Publik KBR.

Mematahkan Stigma dan Mitos HIV/AIDS

Bertepatan dengan hari peringatan AIDS sedunia, Ruang Publik KBR bersama dengan Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat berupaya mengedukasi publik tentang pemahaman yang benar seputar penyakit HIV/AIDS. Bersama dengan dr. Adi Sasongko dan juga Mas Bram orang dengan HIV. 

HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1987 dan masih ada sampai sekarang, HIV/AIDS yang menjadi salah satu epidemi di Indonesia, masih ada penularannya sampai sekarang menjadi tanggung jawab kita semua untuk mencegah penularannya dan menanggulangi penyebarannya meluas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu membekali diri dengan pemahaman dan informasi yang benar sepuatar HIV/AIDS. Mungkin, sederet mitos dan fakta sudah terpatri di kepala sebagian besar orang ya jika mendengar kata-kata HIV dan AIDS, mari kita bongkar satu persatu.

MITOS: HIV &AIDS mudah menular!

Sejak dulu banyak sekali kesimpangsiuran informasi seputar mudahnya penularan HIV dan AIDS ya, mulai dari pertukaran alat makan, pertukaran handuk bahkan ketika tinggal bersama, padahal itu semua salah loh ya! Faktanya HIV dan AIDS tidak mudah menular tanpa adanya kontak seksual dan kontak darah. Kontak seksual berisiko menjadi salah satu penyebab terjadinya penularan HIV/AIDS, misalnya saja sering bergonta-ganti pasangan seksual serta tidak menggunakan alat pengaman seperti alat kontrasepsi seperti kondom. Kontak darah bisa berupa pertukaran jarum suntik yang sama dan menggunakan narkoba suntik bersama-sama. Fyi, banyak penyakit-penyakit lainnya yang lebih mudah menular dibandingkan HIV/AIDS, serangan Covid-19 salah satunya karena penularan bisa terjadi hanya dengan cairan droplet!

MITOS: HIV tidak bisa disembuhkan!

Epidemi HIV/AIDS sudah terjadi selama 30-an tahun di Indonesia, sayangnya masih banyak ketidak tahuan atas informasi yang benar seputar cara penularan, cara pencegahan dan cara pengobatan yang bisa dilakukan sehingga masih banyak terjadi stigma negatif dan diskriminasi terhadap orang-orang dengan HIV/AIDS. Padahal stigma dan diskriminasi tersebut justru akan mempersulit upaya penanggulangan HIV/AIDS termasuk sesi pengobatan dan penyembuhan! Oleh karena itu, kita perlu waspada namun jangan takut berlebihan, karena HIV bisa dicegah dan diobati!

Saat ini, sudah ada kemajuan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, saat ini bahkan telah tersedia obat anti retroviral bagi orang dengan HIV/AIDS. Dengan obat tersebut, angka kesakitan dan angka kematian akibat HIV/AIDS di Indonesia sudah menurun. Selain itu, semakin masifnya edukasi seputar cara penularan dan cara pencegahan HIV/AIDS, laporan tren kasus HIV/AIDS pun kian menurun. Tantangan ke depan, target global di dunia mengakhiri HIV/AIDS pada tahun 2030 mendatang.

STIGMA & DISKRIMINASI ORANG DENGAN HIV/AIDS

Berdasarkan cerita pengalaman dari Mas Bram, masih banyak terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV di tengah keluarga dan komunitas masyarakat, misalnya saja dikucilkan, pengusiran, ketakutan tidak akan diterima hingga terbenturnya dengan tuntutan pernikahan justru menjadi hal yang membahayakan bagi orang dengan HIV/AIDS loh, Karena terjadinya stigma dan diskriminasi dengan orang-orang dengan HIV yang seharusnya masih bisa disembuhkan dengan melakukan pengecekan, pengobatan dan perawatan ke fasilitas kesehatan dan justru menutup diri terhadap keaadaan tahap awal HIV justru akan menyebabkan peningkatan status penyakitnya ke tahap AIDS! Dan ini lebih berbahaya serta mematikan.

Tahapan HIV/AIDS dan Pentingnya Tes Kesehatan

Tahap pertama, HIV positf, tidak ada gejala yang khas dan tidak ada pengaruh terhadap fisik maupun terhadap daya intelektual dan produktivitas kerja. Dalam tahap ini, baru terdeteksi adanya virus HIV dalam darah. Tidak adanya gejala tersebut dapat menyebabkan pengabaian pengecekan dan pengobatan sehingga memicu kondisi ke tahap akhir, AIDS! Virus HIV/AIDS ini bisa merusak kekebalan tubuh hingga jangka waktu 10 tahun, dan tubuh tidak terlindung lagi dari berbagai macam penyakit lain dan menyebabkan terjadinya komplikasi.

Oleh karena itu setiap perlu untuk menggali informasi seputar HIV/AIDS, dan jika merasa melakukan hal-hal yang diindikasi memicu penularan HIV/AIDS harus segera melakukan pengetasan agar bisa melakukan tindakan preventif dan pengobatan sesegera mungkin sebelum masuk ke tahap AIDS yang mematikan.

So guys, please stay safe, stay healthy, stay well educated about HIV/AIDS! 


3 comments

  1. benar sekali dengan obat antiretroviral bisa membuat ODHA (pengidap HIV/AIDS) menjadi sehat layaknya orang normal. hanya saja obat tersebut harus dikonsumsi sepanjang hidup. Mari kita lawan stigma terhadap HIV/AIDS!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, ga boleh lepas dari pengobatan yaa kalau mengidap HIV/AIDS, mesti banyak2 edukasi diri tentang penyebab, gejalan dan cara pencegahan nih. Yuppp, mesti bisa bijak dan adil ya terhap pengidap HIV/AIDS

      Delete
  2. Pengidap AIDS bisa hidup normal bahkan sembuh. Saya pernah wawancara survivor HIV yang sekarang malah jadi semacam pembimbing buat penderita AIDS. Stigma negatif perlu dipatahkan. Setuju banget sama artikel ini.

    ReplyDelete

your comment awaiting moderation