Summary of Political Public Relations, and Strategic Framing by Kirk Hallahan

Oleh Siti Wulandari (219121011)
Mahasiswa Pasca Sarjana Komunikasi Korporat
Universitas Paramadina

Pesan politik yang dikomunikasikan menggunakan kanal-kanal media telah dilakukan oleh para aktor dan komunikator politik untuk mempersuasi para audiensnya. Upaya penyampaian pesan politik tersebut dicoba dikemas dengan berbagai metode framing. Setidaknya ada tujuh metode framing dalam komunikasi politik yang akan dibahas dalamsummary ini disertai dengan informasi terkait political message framing, 3 tingkatan framing serta efek framing.


Framing melibatkan penekanan, pembatasan atau penghilangan aspek-aspek tertentu dari realitas politik atau sosial. Framing memfasilitasi atau memungkinkan komunikasi dengan membentuk persepsi dan menyediakan konteks informasi untuk memproses informasi politik maupun informasi lainnya bagi para audiens. Framing pesan dapat kita lihat dalam kasus-kasus komunikasi politik dan hubungan masyarakat politik. Framing menjadi alat kognitif untuk membangun, menyampaikan, menafsirkan atau mengevaluasi informasi. Tiga tingkatan framing yaitu,

1) Framing oleh sumber; Praktisi PR, konsultan politik, dan advokat politik menggunakan framing untuk mengkomunikasikan pesan-pesan politiknya. Strategi framing digunakan untuk memilih aspek mana yang harus ditekankan, dan biasanya digunakan dalam kampanye politik. Framing dalam kampanye politik ini biasanya disebut sebagai elite frames atau advocacy frames;

2) Framing oleh media perantara (intermediaries). Media dan sumber informasi pihak ketiga membagikan informasi yang dibuat oleh sumber utama. Intermediaries ini mengolah informasi dari berbagai sumber dengan persaingan frame yang dibangun masing-masing. Secara khusus, media utama mengupayakan keseimbangan dalam mem-framing informasi yang diperoleh. Media dapat mengadopsi atau mendukung kerangka asli dari sumber informasi. Intermediaris juga bisa memperluas dan me-reframe informasi untuk memasukan perspektif yang bersaing atau membangun kerangka frame yang baru;

3) Framing oleh penerima pesan/audiens. Para audiens tidak tidak secara pasif menyerap pesan — mereka secara aktif memilih, menilai, dan menyajikan kembali (membingkai ulang) informasi sebelum menyimpannya dalam memori, proses ini disebut sebagai kognitif priming.


Efek dari framing dapat dilihat di tingkatan individu dan masyarakat. Efek pada individu mencakup peningkatan pemikiran dan peningkatan pengetahuan tentang topik-topik tertentu, hingga pesan tersebut menarik perhatian dan merangsang audiens untuk mempertimbangkan pesan tersebut. Efek individu ini dimoderasi oleh motivasi dan pengetahuan terkait topik, nilai-nilai pribadi, sikap dan pendapat sebelumnya, frekuensi pemaparan, dan kredibilitas sumber. Menurut Shen (2004), faktor utama moderasi efek individu adalah kemampuan untuk mengelola framing dalam proses priming. Framing di tingkatan masyarakat dibentuk dengan pembingkaian berbasis budaya dan nilai-nilai masyarakat. Frame seringkali menghubungkan ide-ide baru dengan analogi, kiasan dan narasi yang dipercaya masyarakat. Dalam hal ini, framing digunakan juga sebagai alat integrasi budaya.
Adapun tujuh tujuh metode framing dalam komunikasi politik yakni,
  1. Framing Situasi, merupakan penciptaan situasi atau adegan yang mencontohkan ide kunci. Bisa juga menonjolkan “strip realitas” yang menggambarkan potongan aliran aktivitas yang
    sedang berlangsung (Goffman, 1974).
  2. Framing atribut, disebut juga media agenda setting tingkatan kedua. Framing semantik
    melibatkan karakterisasi objek, peristiwa, dan orang yang menggunakan label, analogi, atau
    bahasa kiasan seperti metafora (Bosman, 1987; Brewer, 2002).
  3. Framing risiko. Orang-orang umumnya menolak risiko. Teori prospek berfokus pada
    respons orang-orang setiap kali keuntungan atau kerugian akan dihasilkan dari suatu
    keputusan (Tversky & Kahneman, 1981).
  4. Framing argumen yang mendukung tindakan. Framing ini digunakan untuk mendorong
    tindakan yang diinginkan, baik berupa bujukan atau pun klaim yang dinyatakan dalam
    istilah positif atau pun negatif.
  5. Framing isu. Framing memainkan peran penting dalam debat politik tentang masalah sosial. Framing isu mencakup pelabelan atau pilihan argumen dan pedefinisian suatu isu. Framing isu ini bertujuan mengembangkan perhatian dan diskusi publik yang cukup sehingga topik muncul ke dalam agenda media publik dan akhirnya menjadi agenda kebijakan publik (Manheim, 1987).
  6. Framing tanggung jawab. Framing tanggung jawab melibatkan penilaian bias dan penilaian dari masing-masing individu.
  7. Framing narasi/cerita (termasuk framing berita). Framing komunikasi politik melibatkan framing cerita, penuturan narasi kompleks yang menjelaskan ide atau situasi (Currie, 2007). Framing digunakan dalam komunikasi politik untuk membangun citra, menentukan posisi dan keberpihakan, melakukan penyerangan terhadap lawan dan pesan-pesan politik lainnya. Framing politik juga turut berkembang dalam media alternatif seperti media online dan media sosial. Dalam media online, liputan media dapat berinteraksi sehingga diskusi yang diikuti oleh wartawan membentuk framing media sementara juga memperkuat efek framing media (Zhou & Moy, 2007). Dalam hal ini, framing dapat dilihat dan digunakan sebagai alat untuk membangun hubungan dan rekonsiliasi politik.

Presiden Joko Widodo selama masa kampanye hingga saat ini senantiasa dicitrakan sebagai sosok yang sederhana, kalem, dekat dengan rakyat, sadar dan memperhatikan segala isu yang menjadi perhatian masyarakat dengan atribut pakaian putihnya dan gaya tutur bahasanya yang sederhana dan membumi namun mendalam.
Gaya pakaian Presiden Joko Widodo yang menggunakan kemeja putih dengan lengan tergulung dan celana hitam menunjukan framing atribut yang dimaknai sebagai kesederhanaan. Dalam menanggapi permasalahan nasional, Presiden Joko Widodo senantiasa menggunakan gaya bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, tutur yang lembut dan mengesankan dialek Jawa menunjukan framing situasi, isu dan narasi.

Surhayono, dkk (2017) melakukan penelitian mengenai framing Presiden Joko Widodo yang dikonstruksi oleh wartawan/media, elite politik dan masyarakat. Konstruksi framing Presiden Joko Widodo yang dilakukan oleh wartawan/media menunjukkan bahwa Presiden Joko Widodo adalah sosok yang; a) merespon keresahan yang terjadi pada masyarakat, b) sosok yang tegas, c) memperhitungkan secara matang dalam mengambil keputusan, d) pengambilan keputusan tidak berdasarkan pertimbangan matang dan tidak belajar dari masa lalu, dan e) Presiden Joko Widodo belum mampu menangani masalah penggunaan narkoba dan korupsi.

Adapun konstruksi framing Presiden Joko Widodo yang dilakukan oleh para elite politik yakni; a) Presiden Joko Widodo tepat dalam mengambil keputusan, bertanggung jawab dan berhasil dalam memimpin pemerintahannya, b) dari pihak oposisi, Presiden Joko Widodo dikonstruksikan sebagai sosok yang cerdik, secara negatif, dan c) Program yang dijalankan hanya pencitraan semata. Sedangkan konstruksi framing Presiden Joko Widodo dari sudut pandang masyarakat menggambarkan a) kepemimpinan Presiden Joko Widodo selama dua tahun terakhir mengalami kemajuan, dan b) Presiden Joko Widodo gagal menjalankan program kerjanya. Dari hasil penelitian Suharyono, dkk, tersebut kita bisa melihat bahwa konstruksi citra dari seorang Presiden Joko Widodo telah meliputi framing situasi, isu, atribut, risiko, tanggung, jawab, dan argumen.


DAFTAR PUSTAKA
  • Carina, Jessi. (2019, April 24). "Pemilu 2019 Diakui Dunia, Kenapa 'Framing'-nya Menjadi Pemilu Kotor?" Kompas.com. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2019/04/24/08093721/pemilu-2019-diakui-dunia- kenapa-framing-nya-menjadi-pemilu-kotor.
  • Fadilah, Ida. (2019). Analaisis Framing Berita Debat Pemilihan Presiden 2019 Pada Surat Kabar Jawa Pos. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAI) Salatiga.
  • Fitria, S.A. (2019). Analisis Framing Pemberitqaan Deklarasi Kampanye Damai Pemilihan Presiden 2019 di Liputan6.com dan Tempo.co. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
  • Gaya Jokowi dan Prabowo dalam kampanye: Antara 'Kalem' dan 'Emosional.' (2019, April 11). BBC Indonesia. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47885828.
  • Hallahan, Kurk. (2011). Political Public Relations Principles and Applications. In Stromback, J., Kiousis, S. (Ed). Political Public Relations and Strategic Framing (pp. 177-213). New York: Routledge.
  • Suharyono, dkk. (2017). Presiden Joko Widodo dalam Bingkai Media Massa. Litera. Vol. 16. (pp. 129-138). Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/318229004_PRESIDEN_JOKO_WIDOD O_DALAM_BINGKAI_MEDIA_MASSA. Doi: 10.21831/ltr.v16i1.14256.

No comments